Your email updates, powered by FeedBlitz

 
Here is a sample subscription for you. Click here to start your FREE subscription

"SEPIA - 5 Kecerdasan Utama meraih Bahagia dan Sukses" - 5 new articles

  1. Fokus (bagian 1) : menjadi alami
  2. Libur
  3. Survival of the Fittest
  4. Yang kecil, yang menentukan
  5. Menang tapi kalah
  6. More Recent Articles
  7. Search SEPIA - 5 Kecerdasan Utama meraih Bahagia dan Sukses

Fokus (bagian 1) : menjadi alami

“Sepertinya susah kalau memulai bisnis setelah berkeluarga,” komentar seorang teman saya.





“Selain perhatiannya banyak terpecah, juga kita jadi keluar dari zona nyaman,” katanya melanjutkan.

Memang demikian pula yang saya rasakan. Perhatian kita yang sudah berkeluarga akan terpecah dengan banyak urusan, mulai dari masalah mainan anak, anak sekolah, kesehatan, rumah, persoalan keluarga besar, hingga urusan karir dari pekerjaan yang sudah kita geluti. Masuk ke dunia bisnis tentu saja menambah kerumitan. Padahal kita menginginkan kenyamanan dan kebahagiaan.

Apakah yang sudah tua tak baik lagi untuk memulai bisnis? Hmmm, tunggu dulu. Ini hanyalah masalah bagaimana mengelola energi kita.

Mengapa anak muda tampaknya lebih berpeluang sukses dalam bisnis? Ya.., karena energi mereka masih berlimpah. Saya sering bilang ke adik-adik yunior. Silahkan mencoba banyak hal, tapi di usia 30 tahun silahkan putuskan dimana akan berkiprah. Usia 30 tahun adalah masa evaluasi pertama dalam karir kita. Setelah mencoba banyak hal, dimanakah ladang yang ingin kita tekuni? Kalau sebelumnya kita punya banyak energi untuk mencoba banyak hal, maka semakin bertambah umur semakin menurun pula tingkat energi kita. Karena itu agar bisa tetap setajam sebelumnya, kita perlu mempersempit bidang yang kita tekuni. Ibarat mempertahankan tekanan untuk mendobrak hambatan, maka bila energi turun separuh maka area tekan harus direduksi menjadi separuh juga.

Jadi, menjadi fokus adalah suatu hal yang alami. Energi yang menurun harus diimbangi dengan menurunkan pula area yang kita kerjakan. Dengan demikian kerja kita tetap bisa seproduktif dulu saat masih lebih muda. Repotnya kalau kita ini serba bisa. Rasanya banyak sekali peluang yang menarik terus datang silih berganti menggoda untuk dicoba. Inilah yang menjadikan banyak orang pintar dan berbakat justru tak menjadi apapun setelah lama menempuh karirnya.

Jadi, mari mulai fokus. Mana yang akan kita pilih? Mana pula yang dengan tegas kita tinggalkan?

Tetes air yang fokus, bisa melubangi batu.


Libur

Saat musim liburan justru keluarga saya tidak berlibur. Maksudnya, kami menghindari tempat-tempat untuk berlibur, misalnya Dunia Fantasi atau Kebun Binatang. Itu karena dulu kami pernah berlibur saat musim liburan, dan hasilnya adalah capek di jalan serta capek antri. Di DuFan Ancol, kami mengantri satu jam hanya untuk bisa naik mainan Bianglala. Liburannya tidak menghibur. Sejak saat itu kami sekeluarga berlibur saat orang lain tidak berlibur. Biasanya hari Selasa atau Rabu. Ada keuntungannya, sepi suasananya, jadi kami bisa melenggang santai. Ada kerugiannya, tidak semua fasilitas hiburan dinyalakan.





Musim liburan kemarin saya melanggar prinsip tersebut, walaupun istri sudah mengingatkan. Hari Minggu di bulan Juli, saat musim libur sekolah, kami mencoba ke taman buah Mekarsari di Bogor. Hasilnya? Kecewa. Untuk naik kereta antriannya sangat panjang. Batal, padahal sudah beli tiket. Anak mau pipis pun, antri di WC penuh. Padahal kami datang sudah hampir jam 3 sore, waktu yang kami perkirakan taman buah tersebut sudah mulai sepi. Sekali lagi, karena pengalaman buruk tersebut, kami menjadi semakin malas berlibur saat musim liburan. Kapok.

Kalau Anda di Bandung, saat hari libur Sabtu dan Minggu adalah saat yang tepat untuk… tetap di rumah! Itu karena jalanan di Bandung menjadi padat akibat tamu dari luar kota, terutama Jakarta.

Jadi apa itu libur?

“Saya sedang merasa kurang hepi, karena kesibukan yang luar biasa,” celetuk Pak Arry jujur. Kami sedang makan siang bersama di hotel Aston, di kawasan Cihampelas Bandung. Perusahaan Pak Arry sedang mendapat banyak peluang bagus. Peluangnya menggembirakan. Namun jadwal bertemu orang membuat Pak Arry menjadi kekurangan waktu untuk bersantai.

“Pak Arry dan Pak Khairul ini orang yang luar biasa, jadi sudah saatnya membuat suatu karya yang besar, dan biarkan peluang mendatangi. Sudah bukan saatnya lagi mengejar peluang,” komentar Pak Agus Nggermanto, si pendiri APIQ. Kami tertawa bersama. Pak Agus sudah memulainya. Dia membuat karya, dan peluang mulai mendatanginya.

Diskusi berkembang menjadi topik tentang berlibur. “Saya selalu mengagendakan libur, minimal sehari dalam seminggu,” kata Pak Agus.

“Tapi yang kita anggap hari libur itu ternyata sering tidak bisa dipakai bersantai loh. Ada acara dengan keluarga misalnya, mungkin itu kewajiban, jadi bukan libur,” sahut Pak Arry. “Berlibur itu artinya, mungkin, kita bisa bebas melakukan hal yang kita inginkan,” lanjut Pak Arry.

“Kalau saya bisa selalu berlibur, tapi pendek-pendek,” kata Pak Dimitri yang baru bergabung.

“Wah, itu belum libur Pak,” kata Pak Arry, ” mestinya waktunya kontinyu. Kalau terputus-putus, masih bukan libur namanya. Minimal 24 jam misalnya kita bisa melakukan hal yang kita inginkan tanpa diganggu. Nah, itu baru libur namanya….”

Kami tertawa bersama.

Jadi libur adalah : bisa melakukan hal yang kita inginkan dalam suatu kurun waktu yang kontinyu, tanpa diganggu.

Bebas melakukan apa saja. Mau tidur, boleh. Mau mengerjakan sesuatu - termasuk pekerjaan- secara serius juga boleh. Mau nonton film, boleh. Mau di rumah saja, boleh. Mau baca buku, boleh. Itu baru namanya berlibur.

Jadi kalau hari libur, tapi kesal tergadai oleh banyak kerjaan, itu belum libur. Juga kalau hari libur, tapi kesal antri di tempat hiburan, itu juga belum libur.

“Di bukunya yang baru, Outliers, Gladwell menyebut salah satu kriteria pekerjaan yang memuaskan adalah ‘otonomi’, mempunyai kebebasan melakukannya, dengan demikian kita menjadi gembira…,” tukas saya menimpali. Bebas memilih adalah kunci kegembiraan.

Mungkin itulah. Kalau Anda gembira dan terhanyut dengan pekerjaan Anda, mungkin sebenarnya Anda selalu dalam kondisi berlibur….

Yang tampak berlibur, ternyata tidak berlibur. Yang tampak bekerja, ternyata justru sedang berlibur. Kita akan selalu berlibur kalau memilih secara bebas untuk melakukan sesuatu secara gembira. Nah!

Bagaimana menurut Anda?


Survival of the Fittest

Anda kurang tampan? Kurang tinggi? Kerempeng? Kegemukan? Bodo matematika? Kabar bagus buat Anda. Semua itu tidak terlalu penting di masa sekarang. Pilihan bentuk pekerjaan semakin banyak.





Tukul Arowana beruntung memiliki wajah tidak tampan (itu menurut dia sendiri loh). Karena justru wajahnya itulah daya tarik kelucuannya. Dalam sejarah kelucuan, jarang komedian yang berwajah setampan Tom Cruise. Ketampanan tidak memancing tawa. Ketidaktampanan bisa menarik tawa. Tidak tampan jadi peluang. Kata Tukul, “Wajah desa, rejeki kota.”

Mamalia beruntung karena fisiknya yang kecil, karena itu makannya juga sedikit, membuatnya bertahan dari kepunahan masa dinosaurus. Orang Indonesia beruntung karena kulitnya yang coklat membuat resiko kanker kulit menurun walau terpapar banyak sinar matahari katulistiwa.

Sudahkah Anda tahu bahwa keheningan bisa dijual? Sekarang ada headphone yang digunakan untuk meredam suara. Pembelinya adalah mereka yang ingin tidur di perjalanan. Naik mobil bising. Naik pesawat pun bising. Maka keheningan pun menjadi mahal harganya. Lalu ada yang menjual penutup telinga, ya headphone khusus untuk meredam suara itulah. Pasang di telinga, kesunyian pun menemani Anda untuk bisa tidur nyenyak. Yang ‘fit’ adalah yang tidak ada bunyinya.

Kita selalu ingin menjadi yang ter dalam segala bidang. Tertampan, tertinggi, terpandai, terkuat, terkaya, dan lainnya. Padahal Tuhan menciptakan dunia ini dengan unik. Setiap kondisi ada kesempatan yang paling pas dengannya. Apakah Anda ingin jadi Presiden? Saya kok membayangkan tugas Presiden itu penuh protokoler yang menjemukan. Tapi pasti ada (dan banyak kayaknya) yang ingin jadi Presiden. Sebaliknya, banyak pula yang tidak mau jadi Presiden. Untuk bahagia pun ternyata perlu kegiatan yang ‘fit’ dengan jati diri kita.

Survival of the fittest

Adalah yang paling ‘fit’ yang akan bertahan. Arti ‘fit’ di sini adalah yang paling sesuai, bukan yang paling kuat. Anda mungkin bodoh matematika, tapi kalau tugas sebagai diplomat maka hal tersebut tidak relevan. Anda mungkin pendek, tapi kalau pekerjaan Anda adalah manajer produksi mungkin hal itu juga tidak relevan.

Kita beruntung sebagai manusia. Kita bisa memilih tempat kita untuk tinggal dan berjuang. Kalau Anda kurang pintar dalam akademis, tidak perlu ngotot jadi dosen. Mungkin Anda lebih cocok dalam lingkungan seniman, atau pebisnis. Kita bisa memilih tempat dimana kita bisa menjadi paling ‘fit’ dengan kondisi tertentu. Di situlah kita bisa unggul. Saya memegang dengan yakin konsep ‘survival of the fittest’ ini. Ada 3 kiat yang bisa Anda coba. Saya telah menggunakannya.

Kiat pertama adalah dengan menjadi ‘orang picak di kalangan orang buta’. Kita pasti mempunyai kemampuan yang unik dibanding teman lain, dan keunikan kita tersebut cocok dengan suatu kebutuhan kerja tertentu. Misalnya. Dalam kelompok tim insinyur yang jago teknologi, ternyata hanya kita yang hobi baca buku pemasaran. Jadilah kita punya ilmu yang mencampurkan teknologi dengan bisnis. Sebaliknya di kalangan pemasaran, mungkin kita yang paling ngerti teknologi. Inilah si picak di kalangan si buta.

Kiat ke dua adalah ‘bagai ikan dalam air‘, yaitu mencari pekerjaan dimana kekuatan kita menjadi menonjol dan kelemahan kita menjadi tidak relevan. Kalau kita pemalu untuk tampil, maka pekerjaan sebagai pengrajin (misalnya seniman, teknisi, auditor, dan sebagainya yang mengandalkan kerja mandiri) akan cocok, karena tidak memerlukan tampil ke banyak orang. Kalau kita pemalu, tak perlu mimpi menjadi vokalis band, sebaliknya fokus menjadi penulis lagu. Di setiap pekerjaan akan ada kondisi yang membuat kita paling fit dengannya.

Kiat ke tiga adalah ‘menjadi landak‘, yaitu mendalami keahlian hingga kita menjadi yang paling ahli di bidang itu. Jangan membayangkan keahlian yang canggih-canggih. Setiap hal ada ilmunya. Saya pernah melihat di televisi tentang seorang yang ahli membuat bubuk tinta dari arang pohon cemara. Hanya untuk mendalami seni membuat tinta diperlukan waktu bertahun-tahun untuk menguasainya. Inilah spesialis yang disebut Peter Drucker sebagai ‘knowledge worker’. Di masa sekarang ini sebenarnya setiap orang adalah manajer dirinya sendiri. Anda bisa sewaktu-waktu dipecat. Namun jika Anda punya keahlian tinggi, peluang masih akan terbuka. Lalu mengapa banyak orang yang nganggur? Karena keahliannya cuma rata-rata. Makanya tidak dicari orang. Setiap hari orang masih mencari teknisi bengkel yang ahli, pemasar yang ahli, desainer yang ahli, tukang sate yang ahli, penjual cendol yang ahli. Setiap hari orang masih mencari. Sayangnya pasar tenaga kerja dipenuhi orang yang rata-rata, tidak menonjol, tidak ahli, tidak mastery.

Tiga kiat tersebut : si picak di kalangan orang buta, bagai ikan dalam air, dan menjadi landak, adalah kiat yang senantiasa relevan untuk menjadi ‘the fittest’.

Artikel terkait :

Si Picak di kalangan orang buta.

Bagai ikan dalam air (mengenali bakat diri).

Menjadi landak.


Yang kecil, yang menentukan

“Saya mau pilih Prabowo,” kata Pandu. “Kenapa?” tanya saya. “Karena masih muda,” jawabnya pendek.

Iklan Gerindra memang ciamik, menarik. Prabowo tampak masih muda. “Prabowo tuh sudah tua juga, Ndu,” kata saya, mengingatkan bahwa usia Prabowo tidak jauh beda dengan SBY. “Yang penting coba sesuatu yang baru,” Pandu berkilah.

Saya juga, sebenarnya ingin calon presiden yang masih muda. Empat puluh tahunan gitu, seperti presiden Amerika. Tapi di sini masih jauh. Semua calonnya sudah udzur. Yang tua yang bicara.

Istri saya beda lagi. Dia ternyata betul tersentuh hati melihat yang berkerudung. Mulai bimbang. Saya sendiri? Saya percaya pembangunan yang bagus perlu waktu lama, jadi mestinya jangan sering ganti. Tapi, akhir-akhir ini setelah dibanjiri iklan-iklan pencitraan diri yang terkesan narsis (mungkin ide konsultan nih), malah saya mulai ragu juga. Ah, nanti sajalah menjelang pilpres….

Laptop saya berganti Macbook. Alasannya sederhana : multi touch pad. Bisa zooming dengan pinch out dua jari. Bisa scrolling dua jari. Bisa forward dan backward dengan tiga jari. Bisa switch dengan empat jari. Bahkan bisa zooming seluruh layar. Pokoknya unik. Selebihnya? Pusing dengan kompatibilitas software! Untuk baca file lama (windows NTFS) harus pasang software lagi, untungnya gratis (tapi lama juga carinya).

Seringkali keputusan kita didasarkan pada hal-hal yang kecil. Entah bagaimana alam bawah sadar kita bekerja, pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi keputusan karena hal kecil tersebut. Misalnya, karena saya sering baca paper (format PDF), maka saya sangat memerlukan kemudahan scrolling dan zooming. “Jadi, beli Mac mahal-mahal itu cuma buat zooming?” tanya Pandu bercanda.

Kata Seth Godin di buku All Marketers Are Liars, sebenarnya konsumen sudah ‘memutuskan pembelian’ jauh hari sebelum Anda tawari. Yang ingin beli mobil kijang, sudah memutuskan beli sebelum ditawari. Demikian juga yang mau beli sedan BMW. Konsumen sudah memutuskan apa yang ia ingin beli. Nah, kemudian para pemasar merangkai berbagai cerita pilihan. Salah satu dari banyak tawaran cerita itu ada yang ‘pas’ dengan cerita yang ingin didengar konsumen. Saya ingin cerita komputer yang unik, nyaman buat baca, lalu Apple menawarkan scrolling dan zooming pakai multi touch pad. Klop. Saya beli Apple.

Kata Seth Godin lagi. Sebenarnya pemasar tidak akan mampu mengubah pikiran calon pembeli. Seberapa pun persuasifnya. Yang bisa ditawarkan adalah membuat beberapa alternatif cerita. Semoga ada salah satu yang ‘pas’ dengan apa yang dimau calon pembeli. That is marketing.

Apa yang sebenarnya ingin Anda cari saat mau membeli komputer, mobil, rumah, lemari es? Apa yang ingin Anda cari saat menilai calon pasangan hidup? Sebenarnya alam bawah sadar Anda sudah memutuskan. Tinggal cerita yang ditawarkan akan klop atau tidak dengan yang ingin Anda dengarkan. Seringkali justru satu hal kecil di salah satu cerita yang ternyata menjadi pemicu keputusan pembelian. Yang kecil, yang menentukan.

Hmm…, cerita mana ya yang paling menarik dari para capres ini?


Menang tapi kalah

RS Omni menang mutlak, sekaligus kalah mutlak.

RS Omni Internasional di Tangerang menggugat mantan pasiennya melalui pengadilan resmi, dan menang. Akibatnya, Prita Mulyasari yang menuliskan keluhannya lewat milis di internet, dijebloskan ke penjara. Masyarakat luas balik mengadili. RS Omni kalah telak dalam pengadilan masyarakat.

Rabu, pagi ini saya membaca tulisan tentang kasus Prita di halaman muka koran Kompas. Dengan oplah sirkulasi Kompas yang mencapai sekitar 700 ribu, kekalahan RS Omni pun mencapai puncaknya. Sekarang tidak hanya masyarakat internet yang mengetahui kasus Prita, masyarakat non-internet pun akan terkejut membaca kasus ini. Mengeluhkan layanan rumah sakit berdampak dipenjara. Lengkaplah sudah kekalahan RS Omni.

Prita kalah di pengadilan resmi, dan menang telak di pengadilan masyarakat.

Kehidupan ini memang penuh paradoks. Yang tampak menang boleh jadi yang sesungguhnya kalah. Yang tampak kalah sering juga yang sesungguhnya menang. Agama mengajarkan, siapa yang membela kebaikan akan selamanya meraih kemenangan. Mungkin secara wujud fisik akan kalah, tapi secara hakiki dia menang. Sejarah para nabi juga dicirikan dengan hal tersebut. Siapa yang menyangka bahwa setelah Nabi Isa a.s. dan pengikutnya dihancurkan, justru ajarannya menjadi populer dan menyebar? Siapa yang menyangka bahwa setelah Timur Lenk menghancurkan Baghdad, justru orang Mongol akhirnya menjadi salah satu penyebar utama kebudayaan Islam? (teman-teman dari agama lain tentu punya banyak contoh yang sama)

“Gimana Mas, kira-kira apa yang kita lakukan kalau kita tahu ada bocoran soal ujian di sekolah anak kita? Ini bocoran resmi loh…” celetuk teman saya. Kami sedang dalam perjalanan bersama dari Jakarta dan Bandung. Dan kami sedang memprihatinkan maraknya soal UN yang bocor. Diskusi kami panjang, kesimpulan kami sama.

“Anak kita boleh gagal, tapi anak kita tidak boleh curang…” demikian kesimpulan kami.

Kita boleh gagal dalam meraih kemenangan fisik, agar tetap bisa meraih kemenangan hakiki. Kita jangan sampai meraih kemenangan semu hanya untuk menderita kekalahan jangka panjang. Dan tentu saja, kita harus terus berjuang sungguh-sungguh untuk meraih kemenangan dunia yang sekaligus kemenangan akhirat. Dua kemenangan sekaligus, yang fisik dan non-fisik. Untuk kemenangan yang hakiki, kemenangan jenis ini bisa diraih dengan kejernihan hati nurani.

Yang menang boleh jadi kalah. Yang kalah boleh jadi menang. Maju terus Bu Prita, saya mendukungmu. Bagi saya, Ibu lah yang menang.


More Recent Articles



Click here to safely unsubscribe now from "SEPIA - 5 Kecerdasan Utama meraih Bahagia dan Sukses" or change your subscription or subscribe