Your email updates, powered by FeedBlitz

 
Here are the FeedBlitz email updates for you. Click here to start your FREE subscription



Untuk Meja Makan, Sebaiknya Menggunakan Kayu Keras atau Kayu Lunak? and more...

Untuk Meja Makan, Sebaiknya Menggunakan Kayu Keras atau Kayu Lunak?

meja_makan_1

Perbedaan, karakteristik, dan kelebihan serta kekurangan kayu keras (hardwood) atau kayu lunak (softwood) sebagai furnitur dan bagaimana mengkombinasikannya untuk memberikan tampilan ruangan yang atraktif.

 

Meja makan (dining table) memiliki peran yang sangat signifikan dalam sebuah keluarga. Di meja makan, seluruh anggota keluarga bisa bertemu dan berkumpul untuk makan bersama, baik di hari – hari biasa maupun pada saat perayaan tertentu seperti hari besar keagamaan, tahun baru, ulang tahun, dsb. Meja makan tak hanya berfungsi untuk menyajikan makanan, melainkan sebagai tempat bercengkerama dan bahkan sesekali difungsikan sebagai area bermain dan mengerjakan tugas.

Meja makan paling sering ditemui dalam material kayu, baik hardwood atau softwood. Namun, menentukan apakah material hardwood atau softwood untuk meja makan bukanlah perkara sepele. Untuk itu, simak perbedaan, karakteristik, dan kelebihan serta kekurangan hardwood atau softwood untuk furnitur.

Hardwood

Pohon – pohon yang menghasilkan hardwood memiliki dinding sel yang tebal sehingga karakter kayu ini begitu kuat dan padat. Spesies ini juga memiliki fitur pembuluh yang menyalurkan air dan mineral ke seluruh bagian pohon. Beberapa jenis kayu yang diklasifikan sebagai hardwood contohnya mahoni, oak, magnolia, cherry, hickory, dogwood, birch, maple, walnut and kayu jati.

Softwood

Istilah “softwood” merujuk pada jenis kayu yang berasal dari conifer trees atau pohon jarum. Ketiadaan dinding seluler yang tebal membuat teksturnya tidak sekuat dan sepadat kayu dari spesies hardwood. Konifer berkembang biak dengan cones atau corongdan bukan biji – bijian atau benih layaknya pohon – pohon yang tergolong hardwood. Yang membuatnya unik adalah daun pohon spesies konifer memiliki berbentuk runcing seperti jarum.

Hal inilah yang juga membedakan konifer ini dengan pohon – pohon berkayu keras. Pohon – pohon yang tergolong jenis konifer cenderung ‘evergreen’ atau tidak mengalami masa meranggas seperti pohon jati dan pohon – pohon kayu keras berdaun lebar lainnya. Beberapa jenis pohon penghasil softwood antara lain pinus hemlock, cypress, cedar, douglas fir dan cemara.

Ketebalan dan derajat kekerasan

Meskipun secara umum softwood memiliki tingkat kekerasan yang lebih rendah dibandingkan dengan hardwood, namun ada spesies tertentu seperti southern yellow pine yang menghasilkan kayu yang jauh lebih tebal dan keras dibandingkan hardwood, meskipun pohon ini sendiri dikategorikan sebagai softwood. Di sisi lain, spesies basswood and poplar memiliki tekstur yang lebih soft atau tidak sekeras hardwood pada umumnya, meskipun kedua spesies tersebut termasuk hardwood.

Secara umum, untuk membuat furnitur misalnya meja, kursi, lemari, atau kabinet, sebaiknya gunakan hardwoods. Sedangkan untuk softwood, kayu jenis ini lebih cocok digunakan untuk konstruksi bangunan atau sebagai bahan dasar kertas.

Perbedaan – perbedaan lain berkaitan dengan softwood dan hardwood

Jika melihat dari pola serat dan warna, terkadang tidak ada perbedaan yang jelas antara softwood dan hardwood. Sebab, masing – masing spesies pohon pemroduksi kayu memiliki ciri dan fitur tersendiri. Misalnya, untuk kayu ebony, kayu ini memilki karakter warna yang gelap, hampir kehitaman. Spesies lain, misalnya kayu pinus, memiliki warna yang cenderung cerah, seperti putih atau krem agak kekungingan, sehingga terlihat sangat kontras dengan kayu ebony.

Dari seratnya, sulit juga dibedakan yang mana serat hardwood dan yang mana serat softwood. Ada jenis kayu yang memiliki serat yang rapat hingga renggang, dan bahkan di beberapa jenis kayu, seratnya cenderung samar – samar atau terlihat kurang tegas.

Mungkin, salah satu perbedaan antara hardwood dan softwood yang sangat mencolok adalah dari segi harga. Secara keseluruhan, harga hardwood lebih mahal dibandingkan softwood karena hardwood dianggap lebih keras, awet, tahan lama, lebih kuat serta kokoh. Tak heran, furnitur yang terbuat dari hardwood, misalnya meja dan kursi makan, akan memiliki harga yang selangit dibandingkan meja dan kursi makan dari softwood.

a

meja_makan_2

Desain Interior Ruang Makan dan Meja Makan Berbahan Hardwood

Menghadirkan hardwood dan softwood dalam ruangan untuk menghindari dominasi yang monoton

Di dalam satu ruangan, akan terlihat lebih atraktif jika kita menggunakan beberapa jenis kayu yang berbeda, mulai dari hardwood maupun softwood dengan variasi warna dan pola serat. Pemilihan kayu dengan warna yang unik seperti warna kemerahan dari kayu cherry, atau putih gading ala kayu pinus bisa dikombinasikan dengan kayu ebony yang berwana gelap, atau kayu jati dengan warna cokelat tua yang solid. Dengan menciptakan variasi dan kombinasi warna kayu seperti ini, maka akan menambah daya tarik ruangan di mana Anda bisa menghabiskan banyak waktu di dalamnya.

Ketika kita menghadirkan banyak unsur kayu dalam ruangan, ada kecenderungan ruangan akan tampak sedikit rustic. Bagi Anda yang menginginkan tampilan yang lebih chic dan modern, Anda bisa menambahkan fabric atau unsur – unsur kain seperti karpet, upholster, hingga taplak meja di beberapa elemen yang terbuat dari unsur kayu.

Usahakan agar keberadaan furnitur kayu satu dengan yang lain tidak saling berdekatan dan beri selingan dari material fabric untuk menyamarkan kehadiran kayu yang overload. Anda bisa juga menambahkan material logam untuk memberikan tampilan ruangan yang seimbang, misal dengan menghadirkan chandelier, lampu gantung, atau rak dari logam.

Selamat mencoba :)

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

Untuk Meja Makan, Sebaiknya Menggunakan Kayu Keras atau Kayu Lunak? is a post from: PT. Architectaria Media Cipta

    



Main Street House, Desain Rumah Kompak, Efisien, dan Sangat Responsif terhadap Lingkungan

main_street_house_1

Desain arsitektur rumah tinggal yang tersusun atas material alam berpadu dengan material pabrikan industri pada eksterior sebuah rumah di Seattle karya Shed Architecture and Design.

 

Shed Architecture and Design merupakan studio arsitektur yang hasil karya terbarunya sukses menggabungkan antara material alam dan material pabrikan industri pada eksterior sebuah rumah yang lokasinya masih di sekitar kota Seattle home. Proyek rumah ini banyak menggunakan material metal cladding dengan permukaan yang bergelombang di sepanjang bingkai jendela dan pintu Douglas fir. Foto – foto dari Mark Woods mencitrakan kondisi dan tampilan rumah baik dalam maupun luar.

Sekilas tentang proyek Main Street House

Kontraktor: David Gray Construction

Desiner Lanskap: Urban Wilds

Teknisi struktur: Harriott Valentine Engineers

Cladding Bergelombang: Nu-wave by AEP SPAN

Bangunan yang dinamai Main Street House dan berlokasi di Seattle ini dirancang oleh Shed Architecture and Design untuk pasangan yang keduanya merupakan ahli geologi. Pasangan yang menjadi klien Shed Architecture and Design sekaligus pemilik bangunan ini ingin mewujudkan sebuah rumah yang kelak bisa ditempati ketika saat – saat pensiun sembari tetap bekerja dari rumah.

main_street_house_19

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 2

Sebelumnya, di lokasi ini terdapat sebuah bungalow yang usianya diperkirakan mencapai 100 tahun. Posisinya tepat berada di lahan yang berbatasan dengan taman, diabadikan oleh kondisi di sekelilingnya, dan ditambah dengan pemandangan sekilas Danau Washington yang sangat apik nan menawan.

main_street_house_6

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 3

main_street_house_8

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 4

Rumah yang kompak, efisien, dan sangat responsif terhadap lingkungan

Salah satu arsitek di Shed Architecture and Design, Schaer Thomas, mengungkapkan bahwa sepasang suami istri tersebut menginginkan sebuah rumah yang kompak, efisien, dan sangat responsif dan bisa beradaptasi dengan zona  yang berbeda. Sebelumnya, pasangan tersebut telah tinggal untuk waktu yang lama di rumah yang sudah usang dan di beberapa bagiannya sudah keropos, namun kini sudah diruntuhkan.

main_street_house_10

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 5

main_street_house_11

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 6

Corrugated metal cladding yang menyerupai tampilan seng

Cladding dari logam yang bergelombang (corrugated metal cladding) yang telah dicat dipilih sebagai salah satu material finishing yang tahan lama. Tampilannya pun sangat unik, karena meniru tampilan seng. Namun, keistimewannya, dengan menggunakan material ini kita bisa mendapatkan tampilan layaknya seng tapi dengan biaya lebih yang rendah. Cladding logam yang bergelombang ini dipadukan dengan Douglas fir, yakni jenis kayu yang banyak ditemui di area lokal di dekat kawasan ini. Douglas fir dimanfaatkan sebagai bingkai jendela dan panel pintu di sekitar rumah ini.

Teknik advanced framing untuk menghemat penggunaan kayu

Rumah ini dibangun dari kayu dengan cara menerapkan teknik khusus yang dikenal sebagai advanced framing. Pada penerapan teknik ini, diperlukan kayu lebih sedikit dibandingkan menerapkan konstruksi bangunan ala rumah – rumah yang biasa terdapat di Amerika. Dengan memanfaatkan teknik advanced framing, penggunaan kayu yang dihemat bisa mencapai 30 persen dari pemakaian biasa.

main_street_house_9

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 7

Bangunan ini dibangun dengan lebih dari empat lantai, plus sebuah garasi di tingkat bawah, dua kamar tidur di lantai atas, dapur, ruang makan dan ruang tamu di tingkat berikutnya, dan terakhir sebuah kantor untuk masing – masing pemilik rumah di lantai atas. Terakhir, terdapat sebuah teras kecil yang melengkapi bangunan ini.

main_street_house_15

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 8

main_street_house_16

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 9

main_street_house_17

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 10

Beton dimanfaatkan sebagai material pada dinding yang sekaligus sebagai ekstensifikasi dari bagian belakang ruanganan untuk memberikan area duduk di sekitar bagian taman, menjadikan area ini lokasi yang nyaman untuk bersantai bagi pasangan yang hampir mendekati usia senja.

main_street_house_7

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 11

Ruang outdoor sebagai ekstensifikasi dari ruang indoor

Ruang outdoor dihadirkan sebagai bagian dari rumah ini untuk memberikan berbagai variasi sekaligus perluasan dari ruang interior yang ada di dalam rumah. Area outdoor tertutup dinding-dinding eksterior di sekelilingnya, sehingga meskipun berada di outdoor, kita seakan – akan dibawa untuk merasakan layaknya berada di indoor. Dengan begitu, penghuni dapat terlibat dengan lingkungan dari posisi yang tepat.

main_street_house_18

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 12

Jendela – jendela telah ditempatkan di tangga pendaratan dan di sepanjang bagian atas dinding yang memungkinkan penghuni rumah menikmati pemandangan pohon sekitarnya dari bingkai jendela hingga menembus ke pemandangan rumah – rumah di sekitarnya. Tujuan dari penempatan jendela dengan cara tak biasa ini adalah untuk mengatur jendela dan membangun privasi sehingga pemilik rumah bisa melakukan rutinitas dan pekerjaan mereka sehari – hari tanpa harus menutup jendela demi menjaga privasi.

main_street_house_4

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 13

main_street_house_5

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 14

main_street_house_3

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 15

Tujuan utama dari pembangunan rumah ini adalah untuk mengembangkan ruang dalam yang terkoneksi dengan sekitarnya dengan tetap mempertahankan privasi dan proteksi.

main_street_house_2

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 16

Douglas fir, kayu lokal dengan serat vertikal yang konsisten

Douglas fir digunakan untuk semua aspek yang menggunakan kayu dalam rumah ini karena serat vertikalnya yang konsisten. Beton lantai digunakan pada tingkat yang lebih rendah, sementara Douglas fir dimanfaatkan untuk lantai pada tingkat atas. Beberapa kayu dari rumah sebelumnya digunakan untuk membuat anak tangga dan bangku.

main_street_house_13

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 17

main_street_house_14

Desain Rumah yang Kompak dan Efisien – View 18

Di dapur, material kayu dikontraskan dengan plastik laminasi abu-abu yang ada pada pintu lemari dan basaltina stone worktop yang semakin menambah kesan kontras pada eksterior rumah.

(image source by: www.dezeen.com)

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

Main Street House, Desain Rumah Kompak, Efisien, dan Sangat Responsif terhadap Lingkungan is a post from: PT. Architectaria Media Cipta

    


Jenis Batu Alam yang Cocok Digunakan untuk Eksterior

eksterior_2

Jenis batu alam yang cocok untuk digunakan pada eksterior serta elemen – elemen eksterior yang biasa dibuat dengan memanfaatkan material batu alam.

 

Menghadirkan cita rasa dan nuansa natural pada eksterior rumah bisa diwujudkan dengan memanfaatkan batuan alam sebagai salah satu materialnya. Nyatanya, ada beragam elemen eksterior yang bisa kita buat dengan menggunakan batuan alam. Lalu, jenis batuan apa saja yang biasa dipakai untuk melengkapi eksterior tersebut? Melalui artikel kali ini, hal – hal tersebut akan diungkap lebih detail.

Cultured Stone

Cultured stone biasanya cenderung ringan, mudah, dan cukup murah hingga menjadikan batuan ini paling sering dimanfaatkan untuk dinding eksterior. Karena cukup ringan, proses pemasangannya pun cukup sederhana dan tidak memerlukan biaya yang besar. Batuan ini sebenarnya bukanlah batuan yang sesungguhnya seperti yang biasa kita temui di alam.

Cultured stone dibuat melalui proses fabrikasi atau batu buatan manusia dengan menggunakan kombinasi semen, tanah, dan pewarna alami, yang dibungkus dalam plastik tipis. Cara ini mampu menciptakan batuan layaknya batuan alami. Untuk membersihkan dan merawat permukaan batu ini harus hati – hati, jangan sampai membuat permukaannya terkikis.

Batu gamping / batu kapur

Batu gamping atau limestone tergolong batuan yang lunak dan mudah terkikis oleh air dan perubahan cuaca seiring berjalannya waktu. Untuk itu, dipilih tipe batu gamping honeycomb limestone, yang memiliki lubang – lubang di permukaannya layaknya sarang lebah. Batuan ini cukup unik dan kerap dijadikan dekorasi untuk eksterior, misalnya ditempatkan di dekat kolam ikan atau air terjun buatan.

Natural Thin Veneer

Natural thin veneer adalah batuan alam yang dibuat menjadi lapisan yang tipis yang kemudian ditempelkan pada permukaan dinding atau elemen eksterior lain. Batuan ini cukup kuat layaknya batuan alami, dengan harga yang lebih terjangkau karena ukurannya dibuat tipis.

Material ini juga relatif lebih mudah dipasang dibandingkan memasang batuan alami yang kadang permukaannya tidak rata, sehingga sedikit menyulitkan ketika dipasang di dinding. Ketebalannya pun relatif lebih kecil dibandingkan batuan alami, yakni hanya sekitar 1 sampai 1 ¼ inchi, sementara ketebalan batuan natural bisa mencapai 3 hingga 5 inchi, atau 2 hingga 3 kali lipat Thin Veneer. Dari segi warna, natural thin veneers memiliki variasi warna sama halnya dengan batuan alami.

Batu kali

Batu kali adalah batuan alam yang memiliki permukaan yang halus dan licin karena terbawa arus air. Batu kali biasa dimanfaatkan sebagai dasar kolam, bagian bawah perapian, atau pada jalan setapak. Kadang, batu kali juga dimanfaatkan untuk bahan pengisi pada pot bunga dan dijadikan ornamen pada taman.

Batuan natural

Menggunakan batuan alam atau batuan natural secara langsung sebagai salah satu bahan penyusun konstruksi bangunan sebenarnya merupakan teknik konstruksi bangunan yang paling tua. Biasanya batuan ini dijadikan fondasi rumah. Batuan ini hampir tidak menyentuh proses fabrikasi sama sekali. Dahulu, batuan alam dijadikan bahan bangunan dengan menambangnya langsung kemudian dibersihkan permukaannya dan dipoles sedikit, sehingga batuan ini lebih mudah dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

eksterior_3

Desain Eksterior/Fasad Rumah dengan Ornamen Batu Alam

Elemen pada eksterior yang biasa disusun dari batuan

  • Siding atau Cladding dari batuan

Stone siding adalah siding atau cladding yang terbuat dari batuan yang biasa melekat pada eksterior rumah, terutama pada fasadnya. Untuk penggunaan pada siding atau cladding ini, batuan semacam batu gamping, granit, batu pasir atau batu paras biasa diterapkan. Stone veneer siding yang juga dikenal dengan sebutan faux stone siding bisa dipilih untuk siding atau cladding pada bangunan, dengan harga yang relatif lebih terjangkau tapi masih menampilkan tekstur dan tampilan permukaan layaknya batuan biasa.

  • Untuk jalan setapak atau jalan untuk mobil (driveway)

Driveway maupun pathway tak jarang memanfaatkan batuan untuk memberikan tekstur tambahan dan mengisi rongga – rongga yang kosong. Pada driveway, keberadaan batuan – batuan dengan teksturnya yang menonjol menjadikan jalan tidak licin, sehingga mobil tidak akan mudah tergelincir. Batuan ini tidak menjadi struktur mutlak penunjang driveway, melainkan hanya mengisi rongga yang kosong saja. Namun, penempatan batuan di driveway ini perlu perawatan khusus, mengingat batuan bisa saja bergeser dari tempatnya.

Sementara untuk jalan setapak atau pathway, keberadaan batuan alami ini mampu memberikan semacam terapi pijat refleksi pada kaki. Bahkan saat ini, hampir semua taman – taman di pusat kota menyediakan jalan khusus yang dipenuhi batu – batuan dengan berbagai macam tekstur sebagai sarana pijat refleksi untuk kaki.

  • Tungku atau tempat perapian dari batuan

Tungku api banyak yang disusun dengan memanfaatkan batuan alami. Tungku perapian ini bisa menambah kesan natural pada eksterior rumah, dan juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan bersama keluarga, misal untuk api unggun atau mengadakan barbeque. Keberadaan batuan pada tungku atau perapian ini menciptakan tekstur dan warna yang atraktif, terlebih jika dipadukan dengan konsep rumah log cabins. Meski kita bisa menggunakan batuan artifisial seperti veneer, namun disarankan untuk menggunakan batuan alami mengingat stone veneer mungkin tidak akan tahan terhadap suhu tinggi dari panasnya api dalam waktu lama.

Selamat mencoba :)

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

Jenis Batu Alam yang Cocok Digunakan untuk Eksterior is a post from: PT. Architectaria Media Cipta

    



Segala Hal Tentang Meja Rias, Tempat Kaum Hawa Bersolek

meja_rias_1

Segala hal yang mesti diketahui dari meja rias, baik yang ditempatkan di kamar tidur, di kamar ganti, maupun kamar mandi.

Meja rias atau vanity merupakan furnitur wajib. Keberadaanya tak hanya bisa ditemui di tempat tidur, melainkan juga di kamar mandi serta di ruang ganti. Meja rias ini biasanya hadir seperangkat dengan cermin besar dan beberapa laci di bawahnya. Meja rias juga dilengkapi lampu – lampu di sekelilingnya. Penerangan yang optimal akan membuat kita merasa lebih nyaman dalam membubuhkan make up.

Di pasaran tersedia beragam tipe dan model meja rias. Ada yang modelnya sederhana dan minimalis dengan cermin yang hanya berbentuk segi empat atau kotak, tapi ada juga meja rias dengan model yang lebih rumit, di mana banyak ukir – ukiran di tiap sudutnya. Meja rias ini biasanya merupakan meja rias dengan desain etnik. Material dari meja rias pun beragam, namun yang paling kerap ditemui adalah meja rias dari bahan kayu.

Memposisikan meja rias yang tepat pada kamar tidur

Sebenarnya tidak ada aturan yang memaksa dalam hal penempatan meja rias di kamar. Tapi, biasanya kita cenderung senang menempatkan meja rias tak jauh dari tempat tidur, atau bahkan sangat berdekatan. Hal ini mengingat kebiasaan para kaum hawa yang kerap membersihkan make up dan melakukan perawatan wajah di meja rias sebelum beranjak tidur. Dengan meletakkan meja rias tak jauh dari tempat tidur, diharapkan mereka tidak malas untuk membersihkan make up sebelum beranjak tidur.

Menempatkan vanity pada kamar mandi

Posisi meja rias atau vanity di kamar mandi harus memperhatikan beberapa fixture dan furnitur kamar mandi yang sudah ada. Kita juga perlu melihat posisi pipa dan kabel – kabel, sehingga keberadaan meja rias tidak menggangu saluran tersebut. Akan lebih baik jika pipa dan kabel dipasang di atas vanity, sehingga masih tersedia cukup ruang untuk memasang fixture dan bathroom appliances lain di ruang yang tersisa.

Mengecat meja rias untuk memberikan tampilan yang baru

Meja rias yang sudah usang dan lama bisa tampak baru dengan memberikan sentuhan warna baru melalui proses pengecatan. Pilih cat dengan warna yang senada dengan warna dan tema ruangan secara keseluruhan. Tak hanya cukup mengecatnya, penataan ulang meja rias juga diperlukan, terutama jika terlalu banyak alat makeup yang berserakan di atasnya. Part – part yang dirasa sudah usang, aus, atau lapuk juga perlu diganti untuk mendapatkan transformasi tampilan meja rias yang benar – benat baru.

Persiapan sebelum mengecat dan menata ulang meja rias

Lepas semua laci dan rak yang ada pada meja rias serta skrup – skrupnya. Lepas juga semua bohlam lampu yang ada di meja rias di sisi cermin, jika ada. Lindungi bagian cermin dengan plaster, kertas koran, atau bahan lain yang mampu melindungi permukaan kaca dari cat. Setelah itu, tutup lagi dengan plastik sampai benar – benar rapat agar tidak ada celah. Dan tak hanya cermin, bantalan kursi yang melengkapi meja rias juga perlu dilindungi agar tak terkena cipratan cat.

meja_rias_2

Desain Furniture Meja Rias (Vanity)

Langkah – langkah dalam mengecat meja rias:

  1. Buka jendela agar ada cukup ventilasi udara

Perlu diingat bahwa selama pengecatan, ruangan harus memiliki sirkulasi udara yang baik. Gunakan masker serta sarung tangan latex dalam melakukan pengecatan.

  1. Lakukan pengecatan seperti biasa

Tuang sedikit cat ke dalam baki, jika terlalu kental, Anda bisa menambahkan thinner. Gunakan roller atau kuas untuk mengaplikasikan cat pada meja rias. Pastikan sudut – sudut kecil terjangkau semua oleh kuas dengan menggunakan kuas yang berukuran lebih kecil. Atau, gunakan paint brush untuk area yang tak tersentuh kuas. Biarkan selama satu hari penuh dan jangan sentuh permukaanya.

  1. Tambahkan material khusus jika ingin mendapatkan permukaan meja rias yang glossy

Untuk mendapatkan tampilan glossy pada permukaan meja rias, terapkan water-based polyurethane dengan tipis di permukaanya.  Lakukan dengan tipis dan pelan agar tercipta kesan glossy yang sempurna.

  1. Lepaskan semua plastik dan plester penutup

Ketika cat dan water-based polyurethane sudah kering, Anda bisa mulai membuka semua plastik penutup dan plester yang melindungi kursi maupun cermin meja rias. Selain itu, pasang kembali laci, skrup dan kenop ke tempat semula. Kini, Anda bisa mendapatkan tampilan meja rias lama seperti baru. Meski cat sudah kering, jangan membersihkan permukaan meja rias dengan air selama 30 hari agar cat bisa melekat kuat. Cukup usap saja dengan kain kering jika berdebu.

Menambahkan lampu pada vanity

Menempatkan lampu untuk meja rias membantu kita dalam mengaplikasikan make up untuk mendapatkan hasil terbaik. Posisi lampu mesti tepat, tidak terlalu tinggi atau terlalu jauh hingga menciptakan bayang – bayang di wajah kita. Dalam memilih jenis lighting untuk meja rias, kita juga perlu memperhatikan posisinya kelak. Untuk tipe lighting bar lights sebaiknya ditempatkan di atas meja rias, sementara bagi Anda yang memilih pemasangan lighting di sisi kanan dan kiri meja rias, gunakan sconce style.

Selamat mencoba :)

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

Segala Hal Tentang Meja Rias, Tempat Kaum Hawa Bersolek is a post from: PT. Architectaria Media Cipta

    


Mendesain Ruangan Kedap Suara

soundproofing_2

Menciptakan ruangan kedap suara dengan menggunakan material yang mampu meredam suara dan meminimalkan celah dalam ruangan.

Satu hal yang sangat mengganggu ketika kita tengah bersantai di kamar atau ruang keluarga, yakni ketika ada anggota keluarga kita tengah mengobrol, menyalakan musik keras – keras, bermain alat musik dengan kencang, atau membuat kegaduhan di ruangan lain. Kegaduhan ini biasa dilakukan oleh remaja yang kerap mengundang teman – temannya ke kamar. Meskipun jarak ruangan tersebut tak terlalu dekat dengan lokasi kita berada, kadang suaranya masih terdengar hingga ke sudut rumah. Tentu hal ini tidak mengenakkan karena suara gaduh tersebut bisa saja sampai terdengar ke tetangga sebelah dan membuat mereka terusik.

Untuk mengatasi kebiasaan ini, tak ada cara lain selain menciptakan ruangan kedap suara. Namun, mendesain dan merancang ruangan kedap suara tentu bukan hal mudah, hal ini perlu dilakukan sedari tahap konstruksi. Cara – cara di bawah ini mampu membuat ruangan kedap suara atau minimal mengurangi intensitas bunyi yang berasal dari ruangan ini, sehingga tidak terdengar terlalu kencang dari luar.

  1. Minimalkan celah dalam ruangan

Untuk memastikan agar suara dari dalam ruangan tidak tembus ke luar, usahakan minimalkan celah dalam ruangan, sekecil apapun itu. Tutup ventilasi serta hindari spot di sela – sela pintu dan jendela. Disarankan untuk memilih pintu dan jendela yang solid, sehingga bisa menutup dengan rapat ketika pintu maupun jendela dalam keadaan tertutup. Jika masih ada celah, tutup dengan perekat hingga lubang – lubangnya tertutup dengan rapat.

  1. Pasang acoustical ceiling tiles

Acoustical ceiling tiles cukup efektif dalam meredam suara dalam ruangan. Bahkan dengan benda ini, level intensitas suara bisa berkurang drastis. Biasanya, acoustical ceiling tiles tersedia dalam kuruan 12″ x 12″ tiles. Namun, ukuran ini bisa dikecilkan dan disesuaikan dengan ukuran ujung – ujung pintu. Pastikan Anda memotongnya dengan sangat tepat dan teliti, sehingga pemasangan acoustical ceiling tiles bisa berjalan lancar dan tidak menyisakan rongga di sisi – sisinya. Gunakan hot glue gun untuk merekatkan acoustical ceiling tiles  di sisi pintu.

  1. Sebisa mungkin kurangi keberadaan permukaan yang datar

Permukaan yang datar seperti dinding atau lantai yang polos akan menciptakan pantulan bunyi yang lebih keras dibandingkan lantai atau dinding yang bertekstur. Anda bisa menambahkan karpet tebal pada lantai serta wallpaper yang cukup tebal pada dindingnya untuk lebih meredam suara yang tercipta di ruangan tersebut. Karpet yang halus nan tebal cukup ampuh dalam meredam bunyi dari ruangan dengan cara mengurangi vibrasi suara, terutama suara pijakan kaki. Sebelum menempatkan karpet pada lantai, gunakan heavy-duty carpet pad, yakni semacam padding atau alas agar posisi karpet lebih pas dan tidak mudah bergeser dari tempatnya.

  1. Tambahkan layer atau lapisan pada dinding

Cara ini terbilang cukup ekstrim untuk mengurangi intensitas suara dari dalam ruangan. Namun, dengan menambahkan layer atau lapisan tambahan pada dinding, hal ini merupakan cara terampuh untuk membuat ruangan kedap suara. Cukup pasang wallboard yang baru dengan menempel pada dinding yang lama menggunakan paku. Pastikan agar papan dinding yang baru merekat kuat dengan dinding yang lama. Tambahkan lem khusus construction adhesive. Untuk melakukan hal ini, kemungkinan diperlukan bantuan tukang atau profesional yang ahli.

  1. Tutupi permukaan yang keras dengan bahan yang lembut

Permukaan yang keras seperti meja, kursi, atau alat elektronik biasanya akan memantulkan suara lebih optimal. Untuk mengurangi tingkat pantulan atau vibrasi suara, redam dengan menggunakan bahan yang lembut tapi tebal untuk menutupi permukaan benda yang keras. Anda bisa menggunakan upholster untuk menutupi kursi dan alat elektronik, dan gunakan taplak meja yang tebal untuk dipasang di meja. Di samping itu, menambahkan busa atau foam yang cukup tebal pada upholster juga merupakan cara jitu meredam suara dalam ruangan.

Foam merupakan material untuk mengurangi intensitas suara dalam ruangan.  Foam ini tak hanya bisa diikutkan dalam upholster, tapi bisa dipasang di balik wallpaper pada dinding. Terakhir, tambahkan juga gorden yang besar dan tebal untuk menutup jendela sekaligus mengurangi intensitas bunyi dari ruangan.

soundproofing_1

Material Foam Untuk Ruang Kedap Suara

Soundproofing vs Sound Control

Soundproofing atau mendesain ruangan kedap suara berbeda dengan mengontrol suara dalam ruangan (sound control). Soundproofing merupakan cara untuk mencegah agar suara yang timbul dari dalam ruangan tidak akan terdengar keluar. Tapi, cara ini memiliki kelemahan, yakni kadang suara yang dihasilkan di ruangan menjadi terdengar tidak enak, terutama bagi orang yang berada di dalam ruangan. Metode ini tentu tidak tepat untuk ruang audio atau ruang untuk rekaman dan bermain alat musik.

Sementara itu, ruangan yang mengaplikasikan prinsip sound control berusaha memecah gelombang suara sehingga suara terdengar lebih halus dan enak didengar, sehingga cocok dijadikan ruang rekaman, karaoke, atau  ruang bermusik.

Selamat mencoba :)

..

architectaria.com | Arsitek, Desain Interior, General Contractor

(Jika anda menganggap artikel ini bermanfaat, jika anda menikmati membaca artikel-artikel di web ini, anda dapat berlanggangan untuk membaca artikel ini melalui email. Silahkan klik DISINI jika anda ingin berlangganan membaca artikel dari architectaria.com melalui email).

Mendesain Ruangan Kedap Suara is a post from: PT. Architectaria Media Cipta

    



More Recent Articles



Click here to safely unsubscribe from "PT. Architectaria Media Cipta." Click here to view mailing archives, here to change your preferences, or here to subscribePrivacy